Saat derajat manusia sudah lebih rendah dari binatang

Posted: 11 January 2011 in My Note, The 8th Habit, Ulasan Buku
Tags: , , ,

Harta dan pendorong utama dari kemakmuran zaman industri adalah mesin dan modal yakni, BENDA. Manusia diperlukan, tetapi dapat diganti. Perusahaan bisa mengontrol dan merotasi atau mengganti-ganti para pekerja manusia dengan hanya sedikit konsekuensi yang ditimbulkan karena pasokannya lebih banyak dibanding kebutuhannya (manusia udah over stock kali ya??? :) ). Perusahaan hanya perlu mendapatkan orang baru yang mau mengikuti prosedur ketat.

Manusia lalu hanya seperti benda, perusahaan bisa bertindak efisien dengan mereka. Yang perusahaan perlukan hanya ‘tubuh orang-orang itu‘ dan bukan pikiran, hati atau jiwa manusia itu sendiri. Secara tidak langsung kita semua menurunkan derajat kita menjadi hanya sekedar benda (tinggian mana derajat binatang atau benda ya?).

Lebih lucunya lagi, dalam sistem akuntansi kita, manusia dianggap sebagai biaya, sementara mesin dipandang sebagai aset. ( Jadi teringat ama perkataan teman sewaktu dengar motor yang dipinjamkan ke temannya kecelakaan, dia bilang kaya gini “gag papa si ‘dondong’ babak belur, yang penting motornya gag papa”) memang zaman industri telah mendidik kita untuk memandang manusia hanya sekedar benda, bahkan benda yang lebih rendah harganya dari benda yang lain. Coba pikirkan hal ini. Manusia diletakkan dalam perhitungan rugi-laba sebagai pengeluaran; sedangkan peralatan diletakkan dalam pembukuan sebagai investasi.

Di bidang motivasi, hal itu jugalah yang membentuk falsafah ‘wortel dan cambuk’, yaitu sistem pengelolaan manusia yang sekadar menganggapnya sebagai seekor keledai yang harus dikendalikan dengan hadiah dan hukuman. Manusia dimotivasi dengan meletakkan wortel (hadiah) di hadapannya, dan dipacu dengan cambuk (ketakutan dan hukuman) di belakang.

Itu pulalah yang menghasilkan perencanaan keuangan secara terpusat dimana berbagai tren atau kecenderungan diekstrapolasi ke masa depan, lalu hierarki dan birokrasi dibentuk untuk “mewujudkan angka-angka’, suatu proses reaktif yang sudah ketinggalan zaman, yang menghasilkan budaya ‘asal bos senang’ yang akan bermuara pada sikap ‘belanjakan saja sampai habis, agar tahun depan anggaran kita tidak dikurangi; dan menutup-nutupi kebobrokan organisasi.

Apa yang terjadi bila manusia mengelola manusia seperti mengelola barang?

Bersambung….

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s